Kenali tandanya sebelum produksi turun.
Dua belas penyakit yang paling sering ditemui di kandang petelur: apa yang terlihat, apa dampaknya, dan tindakan pertama yang benar.

Apa yang kamu lihat di kandang?
Contoh jadwal dari hari pertama sampai produksi.
Contoh, bukan resep tetap — sesuaikan dengan dokter hewan, antibodi maternal, riwayat flok, dan penyakit wilayah.
- Hari 1
Marek
Suntik di penetasanDiberikan sedini mungkin sebelum paparan; pastikan rantai dingin dan aplikasi oleh petugas terlatih.
- Hari 4
ND–IB hidup
Tetes mata/hidung atau semprotUmur dapat bergeser menurut antibodi maternal dan riwayat penyakit farm.
- Hari 12–14
Gumboro hidup — dosis 1
Air minum atau tetesWaktu ideal mengikuti antibodi maternal dan risiko IBD setempat.
- Hari 21–24
Gumboro hidup — dosis 2
Air minumUlangan terutama pada wilayah berisiko atau flok dengan antibodi maternal tidak seragam.
- ± Hari 21–28
ND–IB hidup — ulangan
Tetes mata/hidung atau air minumPastikan air bebas desinfektan yang dapat menonaktifkan vaksin hidup.
- ± 4 minggu
AI inaktif — dosis 1
SuntikHanya sesuai kebijakan pemerintah, status wilayah, dan program dokter hewan.
- ± 6–8 minggu
Coryza inaktif — dosis 1
SuntikDipertimbangkan pada wilayah/farm dengan riwayat snot.
- ± 12–14 minggu
AI inaktif — dosis 2
SuntikBooster dan antigen mengikuti peraturan serta tantangan virus lokal.
- ± 14–16 minggu
Coryza inaktif — dosis 2
SuntikSelesaikan sebelum masuk produksi; vaksin tidak menggantikan biosekuriti.
- ± 16–18 minggu
ND + IB + EDS inaktif
SuntikDiberikan sebelum bertelur agar kekebalan terbentuk menjelang masa produksi.
- Masa produksi
ND hidup — booster tiap 2–3 bulan
Tetes atau air minumInterval dan kombinasi IB disesuaikan tantangan lapangan serta evaluasi dokter hewan.
Tujuh kebiasaan yang memutus penularan.
- 01
Karantina ayam baru selama 2 minggu
Tempatkan terpisah dengan alat dan petugas berbeda bila memungkinkan. Dua minggu adalah batas praktis minimum untuk mengamati gejala; sumber bibit dan pemeriksaan kesehatan tetap penting karena pembawa tanpa gejala dapat lolos.
- 02
Footbath & desinfeksi terarah
Bersihkan lumpur dan bahan organik sebelum desinfeksi, lalu ganti larutan footbath saat kotor atau sesuai petunjuk label. Batasi alas kaki, alat, kendaraan, dan pengunjung yang masuk.
- 03
Kontrol tikus & burung liar
Tutup celah, rapikan tumpahan pakan, lindungi tempat air, dan gunakan pengendalian hama yang aman. Hewan liar dapat membawa agen penyakit di kaki, bulu, feses, atau bangkai.
- 04
Bersihkan kotoran secara rutin
Penumpukan feses menaikkan amonia, mengiritasi saluran napas, mengundang lalat, dan memperberat CRD atau kolibasilosis. Jaga aliran udara tanpa membuat ayam terkena angin langsung.
- 05
Terapkan all-in all-out
Masukkan dan keluarkan satu kelompok umur bersama-sama, lalu kosongkan, cuci, desinfeksi, dan keringkan kandang. Campur umur mempertahankan rantai penularan dari ayam tua ke pullet.
- 06
Catatan harian adalah peringatan dini
Catat konsumsi pakan dan air, mortalitas, jumlah telur, mutu cangkang, serta suhu. Perubahan mendadak dari pola normal flok sering muncul sebelum gejala berat terlihat.
- 07
Pisahkan ayam sakit, lalu cari bantuan
Gunakan kandang isolasi dan tangani ayam sakit paling akhir. Bila produksi turun cepat, kematian meningkat, atau dicurigai flu burung, segera hubungi dokter hewan atau dinas peternakan—jangan memindahkan flok.
Catatan kesehatan: halaman ini bukan pengganti diagnosis laboratorium atau pemeriksaan dokter hewan — gejala sering tumpang tindih. Untuk dugaan flu burung atau kematian mendadak tinggi, batasi pergerakan dan hubungi dokter hewan berwenang / dinas peternakan setempat.
Foto: Ramazanondersen (CC BY-SA 4.0) · Siyabulela Manuel Wase (CC BY-SA 4.0) · L. Mahin (CC BY-SA 3.0) · Lucyin (CC BY-SA 4.0) · Lucyin (CC BY-SA 4.0) · USDA file photo (Public domain) · USDA (Public domain) · USDA (Public domain) · Lucyin (CC BY-SA 4.0) · L. Mahin (CC BY-SA 3.0) · L. Mahin (CC BY-SA 3.0) · L. Mahin (CC BY-SA 3.0) · Lucien Mahin (CC BY-SA 3.0) · Lucien Mahin (CC BY-SA 3.0) · Василюк Олексій (CC BY-SA 4.0) · Василюк Олексій (CC BY-SA 4.0) · Василюк Олексій (CC BY-SA 4.0) · Lucyin (CC BY-SA 3.0) · Roman Halouzka (CC BY-SA 3.0) · Lucyin (CC BY-SA 3.0) · Lucyin (CC BY-SA 3.0) · Lucyin (CC BY-SA 3.0) · Lucyin (CC BY-SA 4.0) · USDA Agricultural Research Service (Public domain) · Lucyin (CC BY-SA 3.0) · Roman Halouzka (CC BY-SA 3.0) · Revivalz1 (CC BY-SA 4.0) · Chhandama (CC BY-SA 3.0) · Chhandama (CC BY-SA 3.0) · Sylvain Larrat (CC BY 4.0) · Gilles San Martin (CC BY-SA 2.0) · Clemson University – USDA Cooperative Extension (CC BY 3.0 us) via Wikimedia Commons.